serasa ingin menyerah
separuh senyumku kau bawa
lelah
By: PETERPAN Takkan selamanya tanganku mendekapmu Takkan selamanya raga ini menjagamu Seperti alunan detak jantungku Tak bertahan melawan waktu Dan semua keindahan yang memudar Atau cinta yang telah hilang Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi Biarkan aku bernafas sejenak Sebelum hilang Reff : Jiwa yang lama segera pergi Bersiaplah para pengganti
*****
Beri aku kekuatan Ya Allah untuk bertahan pada situasi yang buruk ini, dan berikan jalan yang baik…lepaskan dari himpitan beban kehidupan, sungguh sebagian besarnya adalah kebodohanku sebagai manusia. berikan aku kekuatan untuk pergi, meninggalkan asa yang tidak pada tempatnya…
rasa itu masih bergelora, ra
meski sakit mendera-dera
aku masih tak bisa menjawabnya
panjang waktu tak membuatku tahu
tak bisa memaknai
tak pedulimu
hanya nyeri
dan ngilu
dan cinta
nelangsa
Begitu mudahnya emosiku berubah akhir2 ini, setiap hari fighting dengan diri agar fresh, dan berpikir dengan jernih…selalu akhirnya, kamu yg membuatku kembali sedih. Tepatnya pikiran yg dikarenakanmu. Duh Tuhan, bagaimana keluar dari lumpur hitam yg serasa menyesapku setiap kali aku berusaha membebaskan diri. Kuatkan aku ya Allah agar bisa jernih kembali. Setiap hari bertempur melepaskan beban berat yang membuatku sakit kepala. Entahlah apakah ini berlebihan, rasanya ini tekanan terberat selama hidupku? Bahkan saat tsunami aku tak sekacau ini…
Lebih sebulan jatuh bangun dalam perasaan sedih, kecewa, kuatir, marah dsb. Fresh lalu keruh lagi. Ya Tuhan….
Tlah kucoba menyelesaikan satu persatu, persoalan kerja, persoalan dengan orang-orang yang tak penting bagiku…tak begitu sulit untuk kuatasi. Mereka bisa kuanggap debu, lumpur atau kotoran yang bisa kutepiskan atau dicuci. Persoalan finansial, meski mengkhawatirkan dan belum ada jalan keluar, namun aku bisa ikhtiar dan tawakal padaMU. Persoalan anak yang mencemaskan, insya Allah bisa kuatasi dengan bahasa rasa cinta.
Namun ketika bahasa cintaku tak dirasa lagi, mengapa begitu sulit bagiku untuk menerima?
Begitu sulit untuk bisa mengerti kamu, meski bentangan tahun semakin panjang–aku tak akan pernah bisa mengerti, jika orang yang aku harapkan tak peduli padaku. Teman biasa bisa bertanya ada apa denganku, ketika kutuliskan sesuatu di FB atau kenapa ak tak menulis lagi di blog. REAKSI NORMAL. Sekedar itupun kau tak bisa. Sudah kukatakanpun tak akan ada reaksi. Jika memang tak ada lagi aku, mengapa tak pergi saja dari hidupku, katakan dengan sportif, meski pahit. Aku tak butuh sapaan dua tiga patah kata just for ethic?!
Kekecewaan demi kekecewaan….karena ketidak pedulian mu, (masuk akalkah seseorang yang mencinta serupa itu?) begitu membuatku menderita. ALL UNBELIEVABLE IS YOU. DAMN! I HATE YOU.
Bila kekecewaan ini harus berakhir dengan kebencian, datanglah kebencian, aku lelah, terlalu lelah berusaha untuk baik. Untuk ikhlas pada orang yang tak peduli padaku.
ignorance
perempuan
kamu
persetan!
Tak ada yang abadi…tak ada yang abadi…
masih saja aura kesedihan mengelilingi. jeritan Iwan Fals di kompi, mengingatkan lagi padamu, cinta yang sedih…
tak ada lagi tersisa sekedar peduli persahabatan?
yang aku butuhkan hanya reaksi normal, tak lebih, ketika kutuliskan resah, setidaknya kau bertanya…kabarku, seperti orang-orang yang singgah, mereka tak spesial buatku..tapi mereka ada..
terlalu berlebihankah itu?
cinta adalah ada.
kubaca jejak sejenak. lama sudah kunikmati siksa. ah aku masih bicara bahasa yang sama, kau bicara bahasa entah dan mungkin untuk siapa?
masih kueja tertahan namamu, kucatat saja diam-diam di relung kalbu. waktu yang lama tak menandai apa-apa buatmu bukan?
aku yang tak mudah lupa. 14 April ketika kau sapa, memang ta ada apa-apa, lalu waktu dengan mudah mengubah gundah, rasa menggelisah. menghadirkan tanya: mengapa kau ada dalam takdirku?
mungkin benar kata orang, hanya butuh semenit buat mencinta, seumur hidup buat melupakan…
tak mampu kuenyahkan
tak mampu kutinggalkan
kuterima saja siksa indah luka mencinta
tak mampu kumengerti meski rentang waktu
diammu, pergimu
adakah cinta tak pernah ada?!
dan telaga untuk perempuan
dahaga?
dan yang tersesat menjelaga
serupaku yang terbenam dalam kebodohan sendiri.
mudah menyalahkan orang lain, lebih damai menyalahkan diri,
semua karena harap yang tak semestinya.
dalam catatan kelima kini:
kuharapkan akhir buatku
sebab kuyakin, dalam akhir ada awal
semoga indah diberiNya
selamat tinggal ra…
If happines is about chosing, yes it should be. I chose to be happy, no more prejudice of ur ignorance. Like usual, not a single word to answer my message. Don’t you know that I write it with love, a trembling heart?
Perhaps, I will never understand you…time never made me learn to understad that side of you.
ketika cinta
hanya rasa sakit
batin menjerit
tak bersuara
mampukah kutahankan siksa mendamba?